Langsung ke konten utama

GEOGRAFI ENTREPRENEURSHIP (GEO-PRENEURSHIP)

JUDUL : Geo-Preneurship "Learn to Action", Inspirasi dan Motivasi Bisnis untuk Mahasiswa Geografi, HALAMAN : 50 Halaman, PENULIS : Armin Subhani & Nurlaila Mubarokah, PENERBIT : Non Penerbit/Cetak Mandiri/Soft File, KONTAK : mas_armin80@yahoo.co.id

Mahasiswa harus sadar terhadap ketimpangan antara bertambahnya jumlah angkatan kerja dengan ketersediaan lapangan kerja. Harus sadar akan kebutuhan perubahan dan kompetisi yang dapat mengubah hidup menjadi lebih baik, dan sadar dengan peluang yang lebih luas. Atas kesadaran tersebut, buku ini mengajak mahasiswa untuk mencoba melakukan restart orientasi dari keinginan menjadi pegawai beralih menjadi pengusaha.

Restart orientasi diwujudkan dalam langkah kogkrit, yaitu memulai tindakan menjadi seorang Entrepreneur (pengusaha). Entrepreneur yang mengaplikasikan ilmu geografi, Entreprenur yang mampu membaca kebutuhan produk dan jasa dari perspektif ruang dan waktu, serta dinamika interaksi manusia dengan lingkungannya. Entrepreneur dengan segala bentuk aktivitas geografi inilah yang dijadikan istilah “Geo-preneurship”.

Berwira usaha adalah cermin kemandirian, sehingga restart orientasi wajib dilakukan jika tidak ingin tergilas perkembangan zaman, jika anda mahasiswa geografi reseting masa depan anda, pelajari skill geografi yang anda sukai, yang anda cintai dan menghasilkan. Jadilah entrepreneur geografi, mulai dari sekarang !!.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EVALUASI GAMBAR DAN PERTANYAAN BUKU TEKS GEOGRAFI; Studi Penguatan Berpikir Spasial di Sekolah Menengah Atas

Abstarak Buku teks masih menjadi rujukan penting dalam pembelajaran geografi. Di sisi lain, perhatian terhadap seberapa kuat sebuah buku mendorong berpikir spasial, masih dianggap kurang. Padahal berpikir spasial dalam pembelajaran geografi adalah kunci penting dalam memahami fenomena geosfer. Berdasarkan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi buku teks geografi di SMA, seberapa kuat gambar dan pertanyaannya mendorong berpikir spasial. Metode penelitian ini bersifat studi dokumentasi terhadap buku teks geografi di kelas 10, 11, dan 12 SMA. Buku yang dievaluasi adalah buku yang paling banyak di gunakan oleh guru. Studi difokuskan pada pertanyaan dan penyajian gambar. Instrumen penilaian berupa angket yang diadaptasi dari taksonomi berpikir spasial. Keputusan seberapa kuat gambar dan pertanyaan mendorong berpikir spasial, diketahui melalaui analisis skor denga kategori 1-5 (sangat kurang-sangat kuat). Join Riset: WA 08563993098.

REVOLUSI MEDIA GEOGRAFI UNTUK PEMBANGUNAN BERBASIS KEWILAYAHAN

Siapakah Geograf yang tidak kenal dengan sosok dosen geograf muda berbakat. Dr. Luthfi Muta'ali, S.Si.,MSP, dosen geografi UGM yang selalu menghiasi dinding fb hanya dengan qur'an dan materi geografi. Tanpa mengeyampingkan geograf lainnya, peran dia sebagai corong geografi melalui media sosial begitu terasa. Tulisannya seperti suntikan vitamin untuk geograf laiinya, menyegarkan dan membangkitkan semangat, serta menyadarkan bahwa geograf punya peran yang sangat penting dalam membangun bangsa Indonesia. Gayung bersambut, mencermati tulisannya di fb tentang pembangunan berbasis wilayah dengan judul "PERENCANAAN PEMBANGUNAN BERBASIS KEWILAYAHAN(Revolusi Kebijakan Spasial Radikal), dapat dibaca di sini . Ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati; 1) Kajian inti geografi adalah region (wilayah, 2) Setiap wilayah memiliki potensi dan masalah yang berbeda, dalam pembangunannya perlu perencanaan dan penanganan yang berbeda pula, 3) Kecurigaan, dalam penyusunan Rencana Pem...

MENCARI PEMIMPIN HIJAU: Refleksi Kepemimpinan Menyongsong PILKADA NTB

Tahun 2018 adalah tahun hajatan Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih pemimpinnya. Di beberapa kabupaten akan memilih bupati-wakil bupati, dan untuk provinsi Masyarakat akan memilih gubernur-wakil gubernurnya. Bakal calon mulai bermunculan di jalan-jalan, bentangan spanduk dan baliho berisi gambar bakal calon adalah menu wajib bagi tim sukses untuk memperkenalkan pasangan yang diusungnya. Jika pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) dianalogikan sebagai pesta demokrasi, maka calon-calonnya adalah hidangan pestanya, masyarakat sebagai tamu undangan, dan KPU sebagai panitia pesta. Berbicara masalah hidangan politik, maka pilihannya tergantung selera. Selera politik adalah cerminan kondisi politik yang mendorong seseorang untuk mengambil tindakan (misalnya memilih kepala daerah), para ahli sering menyebutnya sebagai perilaku politik (political behavior). Pengalaman pesta demokrasi diberbagai daerah, menunjukkan suatu kecendrungan bahwa seorang calon dipilih bukan lagi karena selera partai pen...